Reportase Islami – Sahabat Islam, Jika cara sujud kita
benar, maka tidak akan memburukkan wajah melainkan sebaliknya, menjadi
bercahaya dan berseri-seri. Adapun jika jidat menjadi ‘kapalan’ atau jidat kita
hitam maka artinya harus memperbaiki gerakan shalat. Sebab yang menjadi
penopang utama ialah kedua tangan, saat sujud, bukan kepala.
Abdullah bin Umar bin Khattab RA. salah seorang
shahabat terkemuka tidak menyukai adanya bekas hitam di dahi seorang muslim.
عَنْ سَالِمٍ أَبِى النَّضْرِ قَالَ :
جَاءَ رَجُلٌ إِلَى ابْنِ عُمَرَ فَسَلَّمَ عَلَيْهِ قَالَ :
مَنْ أَنْتَ؟ قَالَ :
أَنَا حَاضِنُكَ فُلاَنٌ. وَرَأَى بَيْنَ عَيْنَيْهِ سَجْدَةً سَوْدَاءَ فَقَالَ :
مَا هَذَا الأَثَرُ بَيْنَ عَيْنَيْكَ؟ فَقَدْ صَحِبْتُ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- وَأَبَا بَكْرٍ وَعُمَرَ وَعُثْمَانَ رَضِىَ اللَّهُ عَنْهُمْ فَهَلْ تَرَى هَا هُنَا مِنْ شَىْءٍ؟
Dari Salim Abu Nadhr, ada seorang yang datang menemui
Ibnu Umar. Setelah orang tersebut mengucapkan salam, Ibnu Umar bertanya
kepadanya, “Siapakah anda?”. “Aku ialah anak asuhmu”, jawab orang tersebut.
Ibnu Umar melihat ada bekas sujud yang berwarna hitam di antara kedua matanya.
Beliau berkata kepadanya, “Bekas apa yang ada di antara kedua matamu? Sungguh
aku telah lama bershahabat dengan Rasulullah, Abu Bakr, Umar dan Utsman. Apakah
kau lihat ada bekas tersebut pada dahiku?” (Riwayat Baihaqi dalam Sunan Kubro
no 3698)
عَنِ ابْنِ عُمَرَ :
أَنَّهُ رَأَى أَثَرًا فَقَالَ :
يَا عَبْدَ اللَّهِ إِنَّ صُورَةَ الرَّجُلِ وَجْهُهُ ، فَلاَ تَشِنْ صُورَتَكَ.
Dari Ibnu Umar, beliau melihat ada seorang yang pada
dahinya terdapat bekas sujud. Ibnu Umar berkata, “Wahai hamba Allah,
sesungguhnya penampilan seseorang itu terletak pada wajahnya. Janganlah kau
jelekkan penampilanmu!” (Riwayat Baihaqi dalam Sunan Kubro no 3699).
عَنْ أَبِى عَوْنٍ قَالَ :
رَأَى أَبُو الدَّرْدَاءِ امْرَأَةً بِوَجْهِهَا أَثَرٌ مِثْلُ ثَفِنَةِ الْعَنْزِ ، فَقَالَ :
لَوْ لَمْ يَكُنْ هَذَا بِوَجْهِكِ كَانَ خَيْرًا لَكِ.
Dari Abi Aun, Abu Darda’ melihat seorang perempuan yang
pada wajahnya terdapat ‘kapal’ semisal ‘kapal’ yang ada pada seekor kambing.
Beliau lantas berkata, ‘Seandainya bekas itu tidak ada pada dirimu tentu lebih
baik” (Riwayat Bahaqi dalam Sunan Kubro no 3700).
عَنْ حُمَيْدٍ هُوَ ابْنُ عَبْدِ الرَّحْمَنِ قَالَ :
كُنَّا عِنْدَ السَّائِبِ بْنِ يَزِيدَ إِذْ جَاءَهُ الزُّبَيْرُ بْنُ سُهَيْلِ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ عَوْفٍ فَقَالَ :
قَدْ أَفْسَدَ وَجْهَهُ ، وَاللَّهِ مَا هِىَ سِيمَاءُ ، وَاللَّهِ لَقَدْ صَلَّيْتُ عَلَى وَجْهِى مُذْ كَذَا وَكَذَا ، مَا أَثَّرَ السُّجُودُ فِى وَجْهِى شَيْئًا.
Dari Humaid bin Abdirrahman, aku berada di dekat as
Saib bin Yazid ketika seorang yang bernama az Zubair bin Suhail bin Abdirrahman
bin Auf datang. Melihat kedatangannya, as Saib berkata, “Sungguh dia telah
merusak wajahnya. Demi Allah bekas di dahi itu bukanlah bekas sujud. Demi Allah
aku telah shalat dengan menggunakan wajahku ini selama sekian waktu lamanya
namun sujud tidaklah memberi bekas sedikitpun pada wajahku” (Riwayat Baihaqi
dalam Sunan Kubro no 3701).
عَنْ مَنْصُورٍ قَالَ قُلْتُ لِمُجَاهِدٍ (سِيمَاهُمْ فِى وُجُوهِهِمْ مِنْ أَثَرِ السُّجُودِ) أَهُوَ أَثَرُ السُّجُودِ فِى وَجْهِ الإِنْسَانِ؟ فَقَالَ :
لاَ إِنَّ أَحَدَهُمْ يَكُونُ بَيْنَ عَيْنَيْهِ مِثْلُ رُكْبَةِ الْعَنْزِ وَهُوَ كَمَا شَاءَ اللَّهُ يَعْنِى مِنَ الشَّرِّ وَلَكِنَّهُ الْخُشُوعُ.
Dari Manshur, Aku bertanya kepada Mujahid tentang
maksud dari firman Allah, ‘tanda-tanda mereka tampak pada muka mereka dari
ATSARIS SUJUUD (bekas sujud)’ apakah yang dimaksudkan ialah bekas di wajah?
Jawaban beliau, “Bukan, bahkan ada orang yang ‘kapalen’ yang ada di antara kedua
matanya itu bagaikan ‘kapalen’ yang ada pada lutut onta namun dia ialah orang
bejat. Tanda yang dimaksudkan ialah kekhusyu’an” (Riwayat Baihaqi dalam Sunan
Kubro no 3702).
Bahkan dalam kitab Hasiyah as-Showi menyatakan
وليس المراد به ما بصنعه بعض الجهلة المرائين من العلامة في الجبهة فانه من فعل الخوارج وفي الحديث اني لابغض الرجل واكرهه اذا رايت بين عينيه اثر السجود
“Bukanlah yang dimaksudkan
oleh ayat ialah sebagaimana perbuatan orang-orang bodoh dan TUKANG RIYA’ yaitu
tanda hitam yang ada di dahi karena hal itu ialah ciri khas khawarij (baca:
ahli bid’ah)” dalam sebuah hadits disebutkan sungguh saya benci seseorang yang
saya lihat diantara kedua matanya terdapat bekas sujud (Hasyiah ash Shawi
4/134, Dar al Fikr).
Sahabat Islam, Semoga kita selalu dapat menjaga diri
kita dari sifat riya’ maupun sifat buruk lainnya , semata –mata hanya ingin
mendapatkan ridho Allah,
Sumber: share.web.id
